Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menerapkan pendekatan berbeda dalam memecahkan masalah pertanian. Mereka membangun sistem inklusif berbasis data lapangan lewat turbin angin bernama Terangin atau terang dan angin.
Sistem mikrogrid hibrida surya dan angin ini dirancang khusus agar mudah diadopsi petani. Perangkat ini secara otomatis mengatur lampu jebakan hama tanpa memerlukan keahlian teknis tingkat tinggi.
“Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan sebuah PT sebagai legalitas,” ungkap Chief Executive Officer Terangin, Muhammad Hanif, Selasa (5/5/2026).
Pendekatan inklusif lainnya terlihat dari desain pondasi modular non-permanen. Struktur bongkar pasang ini menekan ongkos hingga delapan kali lipat sekaligus memberi keleluasaan bagi petani penyewa lahan.
“Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibandingkan sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin,” beber Hanif.
Perawatan turbin kini berbasis data jarak jauh menggunakan pesawat nirawak. Sistem cerdas ini memproduksi energi 2,1 kilowatt jam per hari untuk menggerakkan pompa irigasi.
“Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara tajam sekaligus meningkatkan hasil panen,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.
Inovasi ini menghemat biaya operasional puluhan juta rupiah setiap musim tanam. Risiko kerugian akibat hama yang awalnya mencapai 50 persen kini berhasil ditekan drastis.
“Pengurangan pestisida juga berdampak pada kesuburan tanah sehingga produksi meningkat,” ujar pemuda asal Surabaya itu.
Proyek lintas keilmuan ini telah mendatangkan omzet ratusan juta rupiah. Sistem Terangin juga baru saja terpilih sebagai inovasi unggulan dalam kompetisi global di Amerika Serikat. [ipl/but]






