Surabaya (beritajatim.com) – Tragedi maut di perlintasan kereta api terus berulang hingga merenggut nyawa. Pakar transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membeberkan alasan di balik bahaya perlintasan sebidang yang mengancam keselamatan pengendara.
Prof. Hera Widyastuti menilai perbedaan ketinggian rel menjadi hambatan fisik bagi pengemudi. Kondisi jalan yang menanjak sering membuat mesin mobil mati mendadak saat berada tepat di atas rel besi.
“Kepanikan saat menanjak membuat pengendara kadang salah pindah gigi, sehingga berisiko mesin mobil mati tepat di atas rel,” jelas Hera dikutip Senin (4/5/2026).
Kelemahan geometrik ini diperparah oleh ketergantungan pada palang pintu dan kedisiplinan manusia yang sering lalai. Risiko benturan tetap tinggi selama jalur kendaraan bermotor masih berpapasan langsung dengan laju kereta api yang kencang.
“Perlintasan sebidang akan selalu menjadi titik rawan selama masih terjadi pertemuan langsung antara arus kendaraan dan laju kereta api,” ujarnya.
Hera mendesak pemerintah segera membangun jalan layang maupun bawah tanah untuk memutus titik temu kendaraan. Solusi infrastruktur ini dianggap langkah paling rasional untuk menghentikan daftar panjang korban kecelakaan di perlintasan.
“Jika kita ingin menghindari benturan langsung, maka perlintasan tidak sebidang adalah jawaban utamanya,” tuturnya.
Di Surabaya, kebutuhan perlintasan tidak sebidang kian mendesak seiring operasional Surabaya Regional Railways Line (SRRL). Frekuensi perjalanan kereta yang sangat rapat bakal meningkatkan potensi risiko di kawasan padat penduduk Jawa Timur.
“Sudah saatnya kita mengawal transisi ini agar perlintasan sebidang segera ditiadakan demi keselamatan bersama,” tutur Hera.
Transformasi ini sekaligus mendukung target global pembangunan kota berkelanjutan yang aman bagi seluruh lapisan warga. Pembenahan infrastruktur diharapkan mampu menekan angka fatalitas kecelakaan transportasi darat secara permanen dan menyeluruh. [ipl/suf]






