Pamekasan (beritajatim.com) – Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori keagamaan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran spiritual, sosial, dan psikologis santri secara menyeluruh.
Komitmen tersebut tampak dalam pelaksanaan praktik manasik haji dan umrah yang melibatkan sebanyak 326 santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), digelar di halaman kompleks Padepokan Kiai Mudrikah, Dusun Sumber, Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, sejak Minggu hingga Selasa (24-26/5/2026).
Seluruh proses pembelajaran dibimbing langsung oleh para pembimbing yang memiliki kapasitas akademik sekaligus kompetensi profesional sebagai pembimbing haji dan umrah bersertifikat. Di antaranya Prof Dr Achmad Muhlis, Dr Mohammad Holis, Dr Heni Listiana, Waqiyah Hilmi, Nurul Umayah, Abd Qodir Maliki, Ahmad Humaidi, dan Samsul Arifin.
“Kegiatan ini tidak sekadar menjadi simulasi ritual ibadah, melainkan dirancang sebagai proses pendidikan transformatif melalui tahapan pembelajaran yang sistematis dan mendalam. Tahap pertama diawali dengan pembelajaran elemen keterampilan proses manasik haji, dilanjutkan dengan assessment keterampilan proses pada materi manasik haji dan umrah. Tahap akhir berupa simulasi pelaksanaan ibadah haji dan umrah secara langsung yang dilaksanakan secara kolektif dan terstruktur,” kata Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Achmad Muhlis, Senin (25/5/2026).
Dalam perspektif pendidikan Islam modern, praktik manasik haji bukan sekadar latihan teknis memahami rukun dan wajib haji. Lebih dari itu, manasik menjadi proses internalisasi nilai ketundukan, pengorbanan, disiplin spiritual, solidaritas kemanusiaan, dan kesadaran eksistensial manusia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Para santri tidak hanya diajarkan bergerak secara fisik dari satu titik ritual ke titik lainnya, tetapi juga dibimbing melakukan perjalanan batin dari egoisme menuju kepasrahan, dari individualisme menuju kesadaran kolektif, dan dari identitas sosial menuju kesetaraan spiritual,” ungkapnya.
Pihaknya juga memahami pembelajaran manasik tidak cukup disampaikan melalui ceramah teoritis di ruang kelas, sehingga manasik dihadirkan sebagai pengalaman sosial sekaligus pengalaman psikologis yang hidup. “Artinya ketika para santri mempraktikkan thawaf, sa’i, wukuf, hingga lempar jumrah dalam simulasi yang terstruktur, mereka sesungguhnya sedang dilatih membangun *spiritual imagination*, yakni kemampuan membayangkan sekaligus merasakan makna ibadah secara mendalam,” tegasnya.
“Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan agama di IBS PKMKK dibangun melalui pedagogi modern yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif pembelajaran. Santri tidak hanya diminta mengetahui tata cara ibadah, tetapi juga memahami logika, urutan, dan makna dari setiap rangkaian ritual yang dijalankan. Model pembelajaran seperti ini dinilai penting dalam membentuk kesadaran reflektif, bukan sekadar kepatuhan ritualistik semata,” jelasnya.
Selain itu, pelaksanaan assessment keterampilan proses menjadi bukti bahwa pendidikan ibadah juga dibangun di atas budaya evaluasi akademik yang serius. Melalui proses tersebut, para santri dilatih memahami bahwa ibadah memerlukan kedisiplinan, ketelitian, tanggungjawab dan kesiapan mental.
“Dalam perspektif psikologi sosial, proses ini membentuk ‘self regulation’, yakni kemampuan individu mengontrol perilaku dan kesadarannya sendiri dalam menjalankan tanggung jawab spiritual,” sambung Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, yang familiar disapa Prof Muhlis.
Puncak kegiatan terlihat pada simulasi pelaksanaan ibadah haji dan umrah secara kolektif. Ratusan santri mengenakan pakaian seragam ihram, bergerak bersama, melafalkan talbiyah, serta menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Momentum tersebut menghadirkan pengalaman emosional dan sosial yang sangat kuat, sekaligus membentuk identitas sosial keagamaan di kalangan santri.
“Ritual kolektif seperti ini memiliki fungsi penting dalam membangun solidaritas sosial dan kesadaran kolektif. Para santri belajar bahwa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, seluruh status sosial melebur menjadi kesetaraan kemanusiaan. Nilai inilah yang menjadi salah satu makna terdalam dari ibadah haji: manusia dipertemukan dalam kesadaran universal tentang persaudaraan dan ketundukan kepada Tuhan,” tegasnya.
Kegiatan manasik juga memberikan dampak besar terhadap perkembangan emosi spiritual santri yang berada pada fase pencarian identitas diri. Pengalaman spiritual yang mendalam pada usia remaja dinilai mampu menanamkan nilai-nilai religius sebagai bagian permanen dari struktur kepribadian mereka. Karena itu, praktik manasik di IBS PKMKK bukan hanya agenda tahunan, tetapi investasi psikologis jangka panjang dalam membangun karakter generasi santri.
Menariknya, keterlibatan para pembimbing yang memiliki kombinasi kapasitas akademik dan sertifikasi profesional menunjukkan bahwa IBS PKMKK tengah membangun model pendidikan Islam integratif yang menghubungkan ilmu, praktik profesional, dan pengalaman spiritual sekaligus. Pendidikan spiritual tidak diposisikan sebagai kegiatan pelengkap, melainkan bagian inti dari proses pembentukan peradaban santri.
“Praktik manasik haji dan umrah ini pada akhirnya menjadi bentuk nyata pendidikan peradaban, sebab haji bukan hanya ritual individual, tetapi simbol perjalanan manusia menuju kesadaran universal tentang persaudaraan, kesetaraan, dan penghambaan kepada Allah. Ketika nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini, maka yang sedang dibangun bukan sekadar kemampuan menjalankan ibadah, melainkan karakter kepemimpinan spiritual yang akan memengaruhi kehidupan sosial mereka di masa depan,” imbuhnya.
Melalui kegiatan tersebut, IBS PKMKK menegaskan bahwa masa depan pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan generasi yang mampu berbicara tentang agama, tetapi generasi yang mampu merasakan agama sebagai energi transformasi diri dan transformasi sosial.
“Oleh karena itu, praktik manasik haji dan umrah pun hadir bukan sekadar agenda pendidikan formal, melainkan laboratorium spiritual yang mempertemukan ilmu, pengalaman, emosi, disiplin, dan kesadaran sosial dalam satu proses pendidikan yang utuh. Di tempat itulah para santri tidak hanya belajar menjadi calon jamaah haji, tetapi juga belajar menjadi manusia yang memahami perjalanan hidupnya sebagai perjalanan menuju Tuhan,” pungkasnya. [pin/aje]






