Ringkasan Berita :
* Dewan Energi Nasional (DEN) melaporkan bahwa Indeks Ketahanan Energi Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi 7,13, yang masuk dalam kategori tahan. Dalam Sarasehan Energi di ITS, Satya Widya Yudha menyoroti capaian bauran EBT sebesar 15,75% dan efektivitas biodiesel dalam menekan impor solar.
* Namun, tantangan besar tetap ada pada tingginya impor LPG dan penurunan produksi minyak bumi. Plh. Rektor ITS, Prof. Imam Baihaki, menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian energi melalui riset teknologi energi laut dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
——————————————–
Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha (SWY), menyampaikan kabar menggembirakan terkait kondisi energi nasional. Indeks Ketahanan Energi Indonesia pada tahun 2025 tercatat berada pada skala 7,13. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,39 poin dibandingkan tahun sebelumnya dan menempatkan Indonesia dalam kategori tahan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Sarasehan Energi ITS bertajuk “Strategi Energi Biru dan Transformasi Ekonomi Pesisir” yang berlangsung di ITS (18/5/2026). Satya menjelaskan bahwa capaian ini didorong oleh empat aspek utama, yakni ketersediaan pasok (availability), keterjangkauan infrastruktur (accessibility), keterjangkauan harga (affordability), dan aspek lingkungan (acceptability).
“Bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) kita mencapai 15,75% pada tahun 2025, naik 1,1% dari tahun lalu. Realisasi biodiesel domestik sebesar 14,2 juta KL juga telah berhasil menekan impor solar sekitar 3,3 juta KL,” papar Satya dalam pidatonya.
Meski demikian, ia memberikan catatan penting mengenai ketergantungan pada luar negeri yang masih tinggi. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 38% minyak mentah dan 80% LPG. Selain itu, penurunan produksi minyak bumi domestik dan terbatasnya cadangan penyangga energi nasional menjadi kerentanan serius di tengah dinamika geopolitik global.
Satya menjelaskan bahwa berdasarkan PP No. 42 Tahun 2025, perguruan tinggi memiliki peran vital dalam menjamin kedaulatan energi nasional. Ia menghimbau agar institusi pendidikan seperti ITS segera menyiapkan peta jalan (roadmap) penguasaan teknologi energi dan penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten.
”Kita perlu menghitung dengan cermat kebutuhan teknisi dan insinyur di masa depan. Sebagai contoh, jika kita memasifkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), maka jumlah tenaga instalasi dan ahli di bidang tersebut harus tersedia dalam jumlah yang cukup,” ujar Satya. Ia juga mendorong adanya pemutakhiran kurikulum secara berkala agar relevan dengan profesi di bidang energi terbarukan dan ekonomi hijau (green economy).
Menanggapi himbauan tersebut, Pelaksana Harian (Plh.) Rektor ITS, Prof. Dr. Eng. Imam Baihaki, S.T., M.Sc., menyatakan kesiapan ITS untuk menjadi lokomotif riset teknologi energi laut. Imam menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemangku kepentingan untuk melokalisasi teknologi agar lebih terjangkau bagi masyarakat pesisir.
”ITS dengan berbagai disiplin ilmu yang dimiliki berkomitmen membantu pemerintah mewujudkan skenario kebijakan energi nasional. Kami sepakat bahwa penyiapan SDM dan teknologi adalah kunci agar target swasembada energi pada 2050-2060 bukan sekadar angka, melainkan realitas yang menyejahterakan masyarakat,” ungkapnya.
Imam Baihaki juga mendorong pembentukan Pusat Kajian Energi Biru di ITS sebagai rujukan nasional. Menurutnya, transisi energi bukan sekadar diversifikasi, melainkan fondasi kedaulatan yang harus dirasakan hingga ke pulau-pulau terdepan. Kolaborasi antara kebijakan strategis DEN dan inovasi teknologi dari kampus diharapkan mampu menjawab tantangan impor energi dan memperkuat ekonomi maritim Indonesia di masa depan.[rea]






