Bojonegoro (beritajatim.com) – Wajah Desa Kalirejo di Bojonegoro dan Desa Bangunrejo di Tuban kini berubah lebih produktif. Melalui skema pembangunan partisipatif yang didukung oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), kedua desa tersebut resmi mengoperasikan infrastruktur baru hasil gotong royong masyarakat, Jumat (30/1/2026).
Di Desa Kalirejo, Kecamatan Bojonegoro, warga kini memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang representatif. Tak sekadar menjadi paru-paru desa, RTH ini diproyeksikan menjadi pusat interaksi sosial sekaligus penggerak ekonomi bagi pelaku usaha kecil setempat.
Sementara itu, warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, kini menikmati jalan usaha tani yang kokoh. Akses ini menjadi kunci bagi para petani untuk memangkas biaya angkut logistik dan mempercepat distribusi hasil panen ke pasar utama.
Peresmian yang dikemas dalam Musyawarah Pertanggungjawaban dan Serah Terima ini menjadi bukti transparansi pengelolaan program. Dengan pendampingan dari Forum Studi Pengembangan Potensi Daerah (FOSPORA), seluruh proses mulai dari perencanaan hingga pengerjaan fisik dilakukan secara mandiri oleh warga desa.
“Pembangunan ini memberikan dampak yang jauh lebih besar dari sekadar fisik. Yang paling berharga adalah meningkatnya kapasitas masyarakat dalam merencanakan dan mengelola pembangunan secara mandiri,” ungkap Sekretaris Desa Kalirejo, Weli Teguh Saputro.
Pendekatan partisipatif ini juga mendapat apresiasi dari pihak EMCL. Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan perusahaan di wilayah operasi. Ia meyakini bahwa infrastruktur yang lahir langsung dari aspirasi warga akan memiliki daya manfaat yang lebih lama dan relevan.
“Kami percaya program yang berbasis aspirasi warga akan memberi dampak nyata bagi aktivitas ekonomi dan sosial desa,” ujar Feni.
Selain merayakan keberhasilan pembangunan, EMCL juga kembali mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan jalur pipa migas yang melintasi wilayah desa demi keselamatan bersama.
Keberhasilan proyek di dua kabupaten ini menunjukkan tren positif pembangunan desa. Warga tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama pembangunan. Dengan penandatanganan berita acara serah terima, fasilitas RTH dan jalan usaha tani tersebut kini resmi menjadi aset desa yang harus dirawat secara kolektif agar manfaatnya terus mengalir bagi generasi mendatang. [lus/kun]






