Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Materialists (IMDb)
Ryan Farizzal

Materialists, film kedua sutradara Celine Song setelah kesuksesan Past Lives, merupakan sebuah romantic dramedy yang tajam dan introspektif. Dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 13 Juni 2025 oleh A24, film ini berdurasi sekitar 116 menit dengan rating R. Ceritanya berfokus pada Lucy (Dakota Johnson), seorang matchmaker sukses di New York City yang mendekati hubungan romantis seperti transaksi bisnis. Ia membantu klien-klien kaya menemukan pasangan ideal berdasarkan kriteria material—tinggi badan, pendapatan tahunan, penampilan fisik, dan status sosial—namun dirinya sendiri terjebak dalam dilema emosional.

Sebuah Pilihan Sulit antara Cinta Tulus dan Kekayaan

Salah satu adegan di film Materialists (IMDb)

Plot dimulai dengan Lucy yang profesional dan sinis, yang melihat cinta sebagai komoditas di era modern yang didominasi kapitalisme dan aplikasi kencan. Kehidupannya berubah ketika ia bertemu Harry (Pedro Pascal), seorang pria kaya raya, karismatik, dan sempurna sesuai standar klien-kliennya.

Di sisi lain, John (Chris Evans), mantan pacarnya yang miskin namun tulus—seorang aktor berjuang yang bekerja sebagai pelayan—kembali muncul dalam hidupnya. Film ini mengeksplorasi segitiga cinta yang tidak konvensional, di mana Lucy harus memilih antara kenyamanan material dan keaslian emosional.

Celine Song menulis dan menyutradarai dengan pendekatan yang cerdas. Ia tidak hanya menyajikan rom-com ringan, melainkan kritik sosial terhadap cara masyarakat modern mengukur nilai seseorang melalui metrik finansial. Dialog-dialognya tajam, penuh wit, dan sering kali menusuk, mengingatkan pada dinamika hubungan di Manhattan yang kompetitif. Visualnya elegan dengan sinematografi Shabier Kirchner yang menangkap kemewahan kota New York sekaligus kesepian di baliknya. Skor musik dan pilihan lagu mendukung nuansa kontemplatif, membuatku merenung tentang prioritas dalam hidup.

Review Film Materialists

Salah satu adegan di film Materialists (IMDb)

Performa para aktor menjadi kekuatan utama. Dakota Johnson menghadirkan Lucy dengan lapisan kerumitan: percaya diri di permukaan, namun rapuh di dalam. Chemistry-nya dengan Pedro Pascal sangat kuat; Harry digambarkan sebagai pria sukses yang charm-nya memikat, tapi juga memiliki kedalaman emosional.

Chris Evans, di sisi lain, membawa kehangatan dan kerentanan sebagai John, yang mewakili cinta yang tidak sempurna tapi autentik. Ketiganya menciptakan ketegangan romantis yang meyakinkan, membuatku terbagi dalam dukungan terhadap pilihan Lucy.

Jadi bisa kusimpulkan, Materialists mendapat ulasan positif dengan rating sekitar 6.2 di IMDb dan apresiasi kritis di Rotten Tomatoes. Film ini berhasil menyeimbangkan humor, drama, dan elemen romantis, meski nada dramanya kadang lebih dominan daripada komedi yang dipromosikan. Ia mengajakku mempertanyakan: Apakah cinta bisa diukur dengan materi, atau justru kebalikannya? Dengan box office yang solid (mencapai lebih dari 100 juta dolar AS8), film ini menjadi pembicaraan tentang dating di era kontemporer.

Film ini awalnya dirilis secara teatrikal dan kemudian tersedia di platform digital seperti VOD (sekitar Juli 2025) serta Max (HBO Max) pada November 2025. Namun, tergantung wilayah, Materialists juga dapat diakses di Netflix di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Filipina, mulai akhir 2025 dan awal 2026. Untuk menontonnya kusarankan memeriksa katalog Netflix lokal untuk ketersediaan terkini, karena lisensi regional sering berubah.

Salah satu adegan paling berkesan adalah pertemuan pertama Lucy dengan Harry di pesta pernikahan kliennya, di mana John muncul secara tak terduga sebagai pelayan. Adegan ini penuh ketegangan subtil, dengan dialog flirty antara Lucy dan Harry yang tiba-tiba terganggu oleh kehadiran John yang membawa minuman favorit Lucy (Coke dan beer). Simbolisme disembodied arm John yang muncul memperkuat tema kelas sosial dan masa lalu yang tak terduga. Adegan ini langsung menetapkan dinamika segitiga dan menjadi momen ikonik.

Menurutku, momen paling menguras emosi terjadi saat Lucy dan John saling jujur satu sama lain di tengah keramaian jalanan New York. Di sana, mereka berteriak tentang perbedaan finansial yang menghancurkan hubungan mereka dulu. John mengungkapkan rasa frustrasinya sebagai pria broke yang mencintai dengan tulus, sementara Lucy menghadapi kontradiksi antara profesinya dan hati nuraninya. Adegan ini mentah, penuh air mata, dan menyentuh isu materialisme versus emosi, meninggalkanku dengan rasa pilu yang mendalam. Kurasa adegan ini adalah klimaks emosional yang autentik dan relatable.

Adegan monolog Harry tentang mengapa Lucy hebat dalam pekerjaannya juga tak terlupakan, menampilkan kerentanan di balik kesuksesannya. Secara keseluruhan, Materialists bukan sekadar hiburan; ia adalah cermin bagi siapa pun yang pernah mempertimbangkan pilihan praktis dalam cinta.

Dengan kekuatan akting, skenario cerdas, dan tema relevan, film ini layak ditonton bagi penggemar drama romantis yang mendalam. Direkomendasikan untuk mereka yang mencari cerita dewasa tentang kompromi dalam hubungan modern. Rating pribadi: 7.8/10.