Makkah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi resmi memberlakukan sistem satu pintu dengan pola buka-tutup di Terminal Ajyad, Makkah, guna menjamin keselamatan jemaah haji Indonesia saat mengantre bus selawat.
Kebijakan ini diprioritaskan bagi jemaah yang baru menyelesaikan salat fardu di Masjidil Haram untuk menghindari desak-desakan yang berisiko memicu cedera fisik.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Terminal Ajyad kini telah dilengkapi dengan koridor khusus pejalan kaki dan pagar pembatas.
Langkah ini diambil untuk memastikan arus jemaah yang akan menuju hotel di kawasan Misfalah (Sektor 7, 8, dan 9) berjalan lebih tertib dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi, Syarif Rahman, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut didasari evaluasi mendalam atas insiden keselamatan pada masa lalu.
“Kenapa itu diberlakukan, jadi tahun-tahun sebelumnya memang belum ada pagarnya yang membatasi antara koridor jemaah dengan bus sehingga jemaah itu bisa langsung naik bus, tetapi kemudian tidak beraturan dan itu membahayakan jemaah,” ujar Syarif di Terminal Ajyad, Sabtu (9/5/2026) malam.
Belajar dari Insiden Jemaah Tertabrak Bus
Syarif mengungkapkan, ketiadaan sistem pembatas pada musim haji sebelumnya sempat mengakibatkan jemaah terjatuh hingga terserempet bus akibat kondisi antrean yang tidak terkendali. “Ada jemaah yang jatuh tersungkur, tertabrak bus, dan sulit ditertibkan,” katanya.
Tahun ini, teknis pemberangkatan diatur lebih ketat berdasarkan nomor rute. Petugas hanya akan membuka pintu terminal saat bus kosong telah terparkir sesuai urutan.
Begitu kursi bus penuh, kendaraan langsung diberangkatkan dan pintu terminal akan ditutup sementara hingga armada berikutnya siap di posisi.
“Jadi bus itu kita tata sedemikian rupa sesuai urutan nomor rute. Baru jemaah disuruh naik. Ketika bus sudah penuh dan diberangkatkan, pintu ditutup supaya jemaah menunggu sebentar sampai bus kosong datang dan ditata lagi,” jelas Syarif.
Meskipun efektif, ia mengakui masih banyak jemaah yang belum memahami mekanisme ini dan menganggap petugas sengaja menahan kepulangan mereka.
Efisiensi Layanan dan Strategi Anti-Dehidrasi
Penerapan sistem buka-tutup ini diklaim cukup sukses mengurai massa. Berdasarkan pantauan petugas, proses pengangkutan jemaah pascasalat Isya menuju pemondokan dapat diselesaikan dalam waktu rata-rata 58 menit.
Pencapaian ini dinilai krusial mengingat jumlah jemaah Indonesia di Makkah terus bertambah seiring masuknya jemaah Gelombang II dari Jeddah dan pergeseran dari Madinah yang kini totalnya mencapai lebih dari 117 ribu orang.
Guna menjaga stamina jemaah di tengah suhu Makkah yang menyentuh 41 derajat Celsius, PPIH berencana mengatur waktu kepulangan jemaah secara bertahap. Jemaah diimbau tidak langsung berbondong-bondong menuju terminal tepat setelah salam terakhir salat fardu.
“Mereka boleh ke Masjidil Haram, tapi keluarnya diatur ada yang satu setengah jam, satu jam, atau dua jam setelah shalat. Itu untuk meminimalisir krodit, jemaah tidak dehidrasi, dan semuanya bisa lancar,” tambah Syarif.
Dukungan dari ketua regu, ketua rombongan, dan ketua kloter sangat diharapkan untuk memberikan pemahaman spiritual dan teknis agar jemaah tetap sabar dalam antrean yang lebih aman. [ian/MCH/but]






