Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi membeberkan data soal tingginya angka kekerasan pada perempuan dan anak di lingkungan pendidikan Indonesia.
Data Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual. Temuan ini menempatkan universitas sebagai garis depan perlindungan mahasiswa.
“Selain sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, kampus merupakan laboratorium peradaban yang mempersiapkan pemimpin masa depan dengan empati, integritas, dan penghormatan terhadap sesama,” kata Arifah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (9/5/2026).
Temuan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 juga mencatat fakta miris. Hasil riset itu menyebut satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah menjadi korban kekerasan fisik hingga seksual.
“Peradaban tidak dinilai dari kemajuan teknologi saja, tetapi dari kemampuan bangsa dalam melindungi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak,” tutur Arifah.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan kasus kekerasan di kampus wajib menjadi atensi kolektif. Ia meminta seluruh sivitas akademika bergerak aktif memperkuat sistem pencegahan secara berkelanjutan.
“Kampus adalah pusat pengetahuan dan kemajuan bangsa. Kondisi di dalam kampus, termasuk persoalan kekerasan, harus mendapat perhatian serius agar tetap menjadi ruang aman,” ujar Brian.
Brian menekankan penguatan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS). Sosialisasi masif perlu dilakukan agar setiap warga kampus memiliki akses pelaporan yang mudah dan merasa terlindungi tanpa rasa takut.
“Pimpinan perguruan tinggi perlu terus mengingatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan melalui panduan informasi di titik strategis agar setiap warga kampus memiliki akses mudah melapor,” tambah Brian.
Sedangkan Rektor Unesa, Nurhasan berkomitmen menciptakan lingkungan aman bagi mahasiswa. Selain isu kekerasan, ia juga mendeklarasikan gerakan Unesa Go Zero Waste sebagai langkah nyata pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan. [ipl/kun]






