RINGKASAN BERITA:
- Program badal haji menyasar jemaah yang meninggal di embarkasi, perjalanan, maupun di Arab Saudi sebelum wukuf.
- Sebanyak 78 jemaah wafat terdata masuk dalam daftar badal haji, sementara 135 jemaah sakit dalam tahap verifikasi medis.
- Regulasi teknis pembadalan mengacu pada Keputusan Menteri Haji dan Umrah (KMHU) Nomor 68 Tahun 2026.
Makkah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mematangkan kesiapan tim khusus untuk membadalkan jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia ataupun sakit parah sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah. Langkah ini diambil guna menjamin hak spiritual jemaah yang mengalami uzur syar’i tetap terpenuhi secara sah menurut hukum fikih.
Program pemeliharaan ibadah ini dipastikan berjalan tanpa memungut biaya sepeser pun dari pihak keluarga almarhum. Landasan operasionalnya telah dikunci rapat melalui regulasi resmi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
“Badal haji diperuntukkan bagi jamaah yang meninggal di embarkasi, embarkasi antara, maupun Arab Saudi sebelum pelaksanaan Armuzna,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pembimbing Ibadah (Bimbad) PPIH Arab Saudi Erti Herlina, kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, seluruh proses penyaringan dokumen dan penunjukan personel pembadal dilakukan lewat verifikasi ketat. Hal ini demi menjaga akuntabilitas pelaksanaan ibadah di depan hukum dan syariat.
Erti memaparkan bahwa tata kelola perlindungan ibadah ini merujuk penuh pada Keputusan Menteri Haji dan Umrah (KMHU) No 68 Tahun 2026 tentang Safari Wukuf dan Badal Haji. Aturan tersebut kemudian diturunkan secara teknis melalui SK PPIH Arab Saudi No 21 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Badal Haji.
Guna menjaga kesucian amanah ini, PPIH Arab Saudi merekrut personel dari unsur tim Bimbad PPIH, jajaran pegawai Kemenhaj RI yang tercatat sudah menunaikan ibadah haji pada tahun sebelumnya, serta tim bimbad kloter yang memiliki kompetensi manasik mumpuni.
“Kami sudah siapkan 587 orang petugas badal haji,” ungkap Erti.
Berdasarkan data mentah yang dihimpun hingga Sabtu malam, grafik jemaah wafat yang terkonfirmasi masuk ke dalam daftar pembadalan berada di angka 78 orang. Jumlah ini mencakup jemaah yang mengembuskan napas terakhir sejak berada di asrama embarkasi tanah air hingga di pemondokan Madinah dan Makkah.
Selain diperuntukkan bagi jemaah yang telah berpulang, Erti mengonfirmasi bahwa skema badal haji ini sangat dimungkinkan untuk dialihkan kepada jemaah yang kondisinya kritis dan tidak memungkinkan secara medis untuk dievakuasi dalam program safari wukuf.
Saat ini, grafik jemaah haji yang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Arab Saudi (mayoritas di Makkah dan sebagian kecil di Madinah) mencapai 135 orang. Guna menentukan prioritas eksekusi, koordinasi lintas sektoral langsung dipacu.
“Kami sudah meminta Kasi Kesehatan PPIH Arab Saudi untuk mendata dan membuat mana yang prioritas dari nomor satu sampai 135 jamaah yang dalam perawatan itu,” urai Erti.
Sisa waktu yang sempit menjelang fase puncak Armuzna dimanfaatkan tim medis untuk melakukan penilaian klinis yang presisi. Langkah taktis ini diperlukan agar penetapan status ibadah jemaah sakit tidak terlambat.
“Kami minta Kasi Kesehatan buat estimasi dalam dua hari ke depan siapa saja dari 135 yang kemungkinkan harus dibadalhajikan,” pungkas Erti. [ian/MCH]






