RINGKASAN BERITA:
- Lembaga resmi Adahi Arab Saudi menerapkan digitalisasi dan teknologi mutakhir dalam memproses 1,2 juta ekor hewan kurban.
- Kecepatan penjagalan berbasis mekanisasi modern mampu menyelesaikan pemotongan satu ekor kambing hanya dalam durasi 7 detik.
- Sebanyak 135.000 jemaah haji reguler Indonesia resmi membayar dam melalui Adahi, melonjak drastis dari musim sebelumnya.
- Kemenhaj RI memastikan seluruh logistik daging dam jemaah Indonesia disalurkan ke wilayah konflik Palestina dan 26 negara lain.
Makkah (beritajatim.com) – Program proyek Kerajaan Arab Saudi untuk pemanfaatan hewan kurban melalui lembaga resmi Adahi melakukan lompatan besar dalam digitalisasi tata kelola penyembelihan dan sirkulasi distribusi daging. Otoritas mengintegrasikan sistem pembelian melalui aplikasi Nusuk serta menerapkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) guna menjamin proses eksekusi dam (hadyu) berjalan efisien, higienis, dan tepat sasaran.
Modernisasi radikal ini menjadi jawaban atas sejarah kelam masa lalu sebelum inisiatif Adahi digulirkan pada tahun 1403 H atas arahan Raja Fahd, di mana area jagal belum memiliki pengawasan ketat dari pemerintah. Penerapan standar industri modern ini memastikan hak-hak spiritual jemaah terlindungi secara paripurna sekaligus mengeliminasi praktik percaloan liar di Tanah Suci.
“Dahulu, marak pemotongan ilegal yang mengakibatkan banyak daging terbuang sia-sia atau membusuk karena tidak tertangani dengan baik,” ujar perwakilan Humas Adahi, Talal Abdullah Al Harbi, ketika menerima kunjungan delegasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Makkah, Senin (1/6/2026) sore.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Selasa (2/6/2026), rombongan PPIH memantau langsung kompleks industri hilirisasi pangan kurban yang memiliki luas lahan hampir 1 juta meter persegi tersebut. Tahun ini, kapasitas operasional Adahi merangkak naik dengan memproses total 1,2 juta ekor kambing yang dipantau ketat oleh 1.250 kamera pengawas (CCTV) selama 84 jam nonstop pascasalat Iduladha.
Proses Cepat 7 Detik dan Sistem Pembekuan Khusus Nitrogen
Talal Abdullah Al Harbi memaparkan bahwa efisiensi tinggi menjadi kunci utama keberhasilan Adahi dalam mengelola lonjakan volume hewan kurban dari jutaan jemaah haji sedunia. Melalui standardisasi mekanisasi ban berjalan, tim jagal terlatih mampu menyelesaikan pemotongan satu ekor kambing hanya dalam waktu 7 detik, bahkan pada satu jam pertama usai salat Iduladha tahun lalu berhasil menembus rekor 27.000 ekor.
Guna menjaga kesegaran nutrisi dan sterilisasi bakteri, daging yang telah dibersihkan langsung dimasukkan ke dalam ruang pembekuan ekstrem bersuhu -80°C dengan durasi pemadatan kilat selama 30 hingga 40 menit. Produk akhir dikemas ke dalam dua varian logistik, yakni potongan daging beku seberat 3 kg yang diberi injeksi gas nitrogen dengan daya tahan simpan hingga 1 tahun, serta kemasan daging kaleng siap saji berbobot 400 gram.
“Kami memastikan 100 persen daging termanfaatkan, dan limbah dikelola dengan teknologi ramah lingkungan,” tegas Talal menerangkan prinsip nihil sisa (zero waste), di mana bagian jeroan dan kotoran hewan langsung disubstitusi melalui pemrosesan teknis menjadi pupuk organik.
Lonjakan Masif Partisipasi Jemaah Indonesia dan Diplomasi Palestina
Di sisi lain, Koordinator Bidang Bimbingan Ibadah dan Dam PPIH Arab Saudi, M. Afief Mundzir, mengungkapkan bahwa tingkat kepatuhan jemaah haji reguler asal Indonesia dalam memilih jalur pembayaran resmi kementerian mengalami eskalasi yang sangat masif. Tren positif ini mengunci akuntabilitas ibadah sekaligus memberikan ketenangan psikologis bagi keluarga jemaah di tanah air.
“Tahun ini, tercatat sebanyak 135.000 jemaah Indonesia membayar Dam melalui Adahi. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 80.000 jemaah,” ungkap Afief Mundzir yang juga memegang komando sebagai Direktur Bina Haji Reguler Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI.
Afief menilai lonjakan tersebut menjadi bukti sahih atas tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap fasilitas perlindungan ibadah kelolaan negara. Lebih dari sekadar pemenuhan hukum fikih, sinergi taktis bersama Adahi ini membuka ruang diplomasi kemanusiaan internasional yang lebih luas bagi bangsa Indonesia.
Sesuai instruksi tertulis yang digariskan oleh Menteri Haji dan Umrah serta Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, seluruh portofolio daging dam milik 135.000 jemaah Indonesia akan dikonsentrasikan masuk dalam kuota ekspor 40 persen luar negeri. Komoditas protein matang ini diprioritaskan bergerak menembus barikade wilayah konflik guna menyasar warga Palestina, di samping didistribusikan ke 26 negara berkembang lainnya di kawasan Afrika dan Yaman.
“Harapan kami, penyelenggaraan tahun depan akan semakin terkelola dengan baik. Prinsip akuntabilitas akan terus kami pertahankan dan perkuat demi menjaga kepercayaan jemaah serta memastikan ibadah Dam dilaksanakan dengan sempurna,” tutur Afief mengakhiri taklimatnya secara optimistis. [ian/MCH]






