RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 458 unit Bus Shalawat resmi diaktifkan kembali untuk melayani jemaah Indonesia di Makkah pasca-fase Armuzna.
- Otoritas transportasi menyesuaikan jadwal operasional penuh menjadi pukul 13.00 WAS demi menyelaraskan waktu istirahat jemaah Nafar Tsani.
- Akses pintu peron di Terminal Syib Amir dan Ajyad diperluas secara masif guna mengurai risiko penumpukan jemaah pascasalat berjemaah.
- Bersamaan dengan itu, Kemenhaj bersiap menerbangkan 17 kloter perdana ke tanah air melalui Bandara Jeddah pada Senin, 1 Juni esok lusa.
Makkah (beritajatim.com) – Layanan angkutan massal bus shalat lima waktu atau Bus Shalawat bagi jemaah haji Indonesia resmi diaktifkan kembali untuk beroperasi secara penuh. Armada transportasi massal ini dikunci bersiaga selama 24 jam penuh tanpa dipungut biaya alias gratis untuk mengantar jemaah dari area hotel pemondokan menuju Masjidilharam maupun rute sebaliknya.
Reaktivasi sistem transportasi maktab ini digulirkan secara masif guna memfasilitasi gelombang pergerakan jemaah yang hendak mengeksekusi utang rukun Tawaf Ifadah pasca-merampungkan fase kritis di Mina. Kebijakan ini sekaligus menandai normalisasi total layanan sirkulasi perkotaan di bawah kendali teknis kementerian.
“Jemaah yang akan pulang ke Tanah Air maupun yang akan ke Madinah mulai hari ini sudah bisa menggunakan bus shalawat selama 24 jam,” jelas Kepala Bidang Layanan Transportasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Syarif Rahman, saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Minggu (31/5/2026), armada bus yang didominasi kelayakan standar internasional ini mulai bergerak penuh sejak pukul 13.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Penyesuaian jadwal peluncuran perdana ini sengaja digeser 12 jam dari rencana awal pukul 01.00 WAS demi menyelaraskan hak biologis istirahat jemaah Nafar Tsani yang baru tiba dari Mina.
Syarif meyakini penundaan ini sangat relevan and linear dengan kondisi riil di lapangan agar jemaah bisa memulihkan stamina di kamar hotel sebelum memburu ibadah di Baitullah. Secara total, PPIH mengerahkan kekuatan 458 unit bus yang disebar secara berkala pada 23 rute strategis, dengan akses integrasi pada tiga terminal utama Masjidilharam, yakni Syib Amir, Ajyad, dan Jabal Ka’bah.
Mitigasi Penumpukan Peron dan Pengurangan Unit Berkala
Mengevaluasi dinamika operasional pra-puncak haji, lini transportasi Kemenhaj bergerak taktis melakukan komunikasi diplomatik dengan otoritas sanksi terminal lokal Arab Saudi. Fokus utamanya adalah meruntuhkan barikade penyempitan pintu peron (bottleneck) yang kerap memicu penumpukan jemaah haji reguler selepas waktu salat wajib.
Sebagai solusi konkret, posko peron Ajyad kini resmi mengunci kebijakan dengan membuka tiga pintu akses sekaligus secara total. Langkah progresif serupa ditegakkan di Terminal Syib Amir yang membuka 16 pintu dermaga bus untuk menjamin kelancaran arus keluar-masuk jemaah tanpa antrean panjang yang berisiko menguras energi.
Menurutnya, jumlah armada bus shalawat ini nantinya akan dikurangi secara bertahap and proporsional seiring berjalannya waktu eksodus jemaah. Skenario penciutan unit kargo ini disesuaikan dengan grafik kepulangan gelombang pertama ke tanah air serta pergeseran jemaah gelombang kedua menuju Kota Madinah.
“Nanti berangsur-angsur akan disesuaikan. Hari terakhir, hari ke-22 itu tinggal 54 bus shalawat yang beroperasi,” jabar Syarif menjamin pengurangan tersebut tidak akan mengganggu kenyamanan mobilisasi jemaah yang tersisa.
Kesiapan Terbang 17 Kloter Perdana pada Hari Lahir Pancasila
Pada sela-sela reaktivasi bus, Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Moch. Irfan Yusuf (Gus Irfan), mengonfirmasi bahwa ekosistem haji Indonesia saat ini telah resmi mengunci kesiapan untuk memasuki tahap hilir pemulangan jemaah. Momentum kepulangan perdana massal ini dijadwalkan bergulir tepat pada Senin, 1 Juni 2026, yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila di tanah air.
Skenario evakuasi hulu dipastikan akan mengutamakan kloter-kloter awal yang telah menuntaskan masa tinggal terlama di Kota Makkah melalui fasilitas penerbangan internasional Bandara Jeddah.
“Pemulangan akan diawali oleh kloter-kloter awal melalui Bandara Jeddah. Pada 1 Juni, sebanyak 17 kloter dijadwalkan mulai dipulangkan ke Indonesia,” terang Gus Irfan memaparkan linimasa keberangkatan maskapai komersial.
Mengingat proses kepulangan massal ini akan berjalan maraton hingga 30 Juni 2026 esok, Gus Irfan melempar imbauan ketat kepada seluruh ketua regu and jemaah untuk memperketat proteksi kesehatan mandiri.
Jemaah diminta patuh pada jadwal check-out manifes baku hotel, mengikuti instruksi pemindaian bagasi petugas, serta secara sadar menolak melakukan aktivitas fisik berat di luar batas kemampuan guna menghindari serangan lemas sebelum masuk pesawat. [ian/MCH]






