Ringkasan Berita:
- IHSG pekan lalu menguat tipis 0,18 persen di tengah sentimen global dan domestik.
- Pekan ini pasar diproyeksi mixed selama tiga hari perdagangan.
- Rebalancing MSCI dan isu kenaikan royalti minerba jadi faktor utama.
- IPOT merekomendasikan PNLF, BDMN, MAPI, dan ETF XIHD.
Jakarta (beritajatim.com) – Dalam sepekan perdagangan saham 4–8/5/2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,18 persen dengan pergerakan cenderung sideways di tengah tarik-menarik sentimen positif global dan tekanan kebijakan domestik.
IHSG sempat menguat selama tiga hari berturut-turut setelah tensi geopolitik Amerika Serikat dan Iran mereda serta didukung data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy), melampaui ekspektasi pasar.
Namun penguatan tersebut terpangkas pada Jumat (8/5/2026) setelah muncul sentimen negatif dari usulan kenaikan tarif royalti mineral oleh Kementerian ESDM yang memicu aksi jual di sektor pertambangan dan energi.
Di sisi lain, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp2,4 triliun di pasar reguler, menandakan penguatan indeks lebih banyak ditopang dana domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai pergerakan IHSG pada periode perdagangan 11–13/5/2026 berpotensi mixed dengan volatilitas cukup tinggi.
“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir,” ujarnya terkait salah satu sentimen global yang dapat mempengaruhi pasar.
Menurut Hari, perhatian pasar global juga tertuju pada dinamika hubungan Amerika Serikat dan China, terutama terkait isu perdagangan, rare earth, serta ketegangan geopolitik Iran.
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati agenda rebalancing MSCI Indonesia pada 12/5/2026 yang berpotensi memicu rotasi portofolio dan volatilitas pada saham-saham kapitalisasi besar.
Selain itu, rencana kenaikan tarif royalti mineral yang ditargetkan berlaku mulai Juni 2026, ditambah wacana bea ekspor dan windfall tax, diperkirakan memberi tekanan lanjutan pada saham sektor minerba.
“Dalam kondisi ini investor disarankan untuk tetap selektif dengan pendekatan trading-oriented, memanfaatkan momentum pada sektor-sektor yang kuat, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko,” saran Hari.
Merespons kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan empat instrumen investasi untuk perdagangan pekan ini:
- PNLF — Buy dengan entry 272, target price 290, stop loss 268.
- BDMN — Buy dengan entry 4510, target price 5250, stop loss 4030.
- MAPI — Buy dengan entry 1455, target price 1605, stop loss 1385.
- ETF XIHD (Premier ETF IDX High Dividend 20) — Direkomendasikan sebagai alternatif defensif berbasis saham berdividen.
IPOT menilai selektivitas sektor dan disiplin manajemen risiko menjadi kunci utama bagi investor dalam menghadapi pasar saham pekan ini yang masih dipenuhi ketidakpastian. [beq]






