Ringkasan Berita:
- IHSG melemah tajam ke level 6.723 akibat tekanan MSCI dan sentimen global.
- Saham besar seperti AMMN hingga BREN keluar dari indeks MSCI Global Standard.
- Investor asing mencatat foreign sell Rp3,21 triliun sepanjang pekan lalu.
- IPOT merekomendasikan saham BUMI, MINA, RMKE, dan ETF XIIC untuk trading pekan ini.
Jakarta (beritajatim.com) – Pekan lalu menjadi salah satu fase paling menantang bagi pasar saham domestik sepanjang tahun berjalan. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah tajam ke level 6.723 di tengah kombinasi tekanan global dan domestik yang datang hampir bersamaan.
Narasi utama pasar kini tidak lagi hanya berkutat pada valuasi maupun kinerja emiten, melainkan bagaimana investor global melakukan reposisi portofolio menghadapi perubahan besar dalam indeks MSCI.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT, Imam Gunadi, mengatakan keputusan MSCI mengeluarkan sejumlah saham besar dari Global Standard Index menjadi pemicu utama tekanan jual di pasar domestik.
“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” tutur Imam Gunadi.
Ia menjelaskan investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum effective date rebalancing pada akhir Mei. Kondisi tersebut memicu gelombang passive outflow yang cukup agresif di pasar saham Indonesia.
Tekanan tersebut semakin berat karena pasar global juga belum sepenuhnya kondusif. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali mundur.
Sebagian pelaku pasar bahkan mulai membuka kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun.
“Situasi ini membuat Dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.520 per dolar AS.”
Selain itu, konflik geopolitik di Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi global akibat krisis Selat Hormuz turut mendorong harga minyak dunia melonjak di atas US$105 per barel.
“Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” tandas Imam.
Di tengah tekanan tersebut, pergerakan sektoral menunjukkan rotasi yang cukup menarik. Sektor energi menjadi salah satu yang paling terpukul akibat keluarnya sejumlah saham besar dari indeks MSCI, khususnya DSSA dan BREN yang diperkirakan menghadapi passive outflow bernilai triliunan rupiah.
Namun pelemahan sektor ini dinilai lebih dipengaruhi faktor teknikal dibanding perubahan fundamental komoditasnya.
Sebaliknya, sektor transportasi justru tampil sebagai outperformer setelah saham ELPI melonjak signifikan pasca aksi divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu.
“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” terangnya.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia terus menguat akibat kekhawatiran undersupply global. Sementara batu bara masih bertahan solid karena adanya pergeseran konsumsi energi di Asia dari LNG menuju batu bara akibat konflik berkepanjangan.
Kondisi tersebut dinilai masih memberikan sentimen positif bagi emiten batu bara domestik. Sementara harga emas mulai mengalami profit taking karena pasar menilai peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.
Untuk nikel, koreksi harga lebih dipengaruhi aksi profit taking dan tingginya inventori global dibanding perubahan fundamental jangka panjang.
Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten tambang dan operator smelter karena mampu menjaga margin profitabilitas tetap stabil di tengah volatilitas global.
Aliran dana asing selama pekan lalu juga menunjukkan investor global belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia, melainkan melakukan rotasi secara selektif.
Foreign sell sebesar Rp3,21 triliun lebih banyak terkonsentrasi pada saham-saham yang terdampak MSCI deletion serta sektor perbankan besar.
Di sisi lain, saham defensif dengan valuasi menarik dan arus kas stabil seperti ADRO, TLKM, dan INKP justru masih mencatatkan inflow asing.
Kondisi tersebut menunjukkan strategi “flight to quality” mulai mendominasi perilaku investor asing di tengah ketidakpastian global dan tingginya volatilitas pasar domestik.
Rekomendasi Saham Pekan Ini dari IPOT
Untuk periode perdagangan 18-22 Mei 2026, fokus pasar diperkirakan masih tertuju pada implementasi MSCI Rebalancing menjelang effective date pada 29 Mei 2026.
IPOT memperkirakan volatilitas pasar masih akan tinggi, terutama saat sesi closing auction yang menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.
Namun di balik potensi outflow tersebut, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, hingga TOWR.
Secara teknikal, IHSG disebut masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya di area 6.640 hingga 6.538.
“IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien,” imbuh Imam.
Merespons kondisi pasar tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan ETF untuk trading pekan ini, yakni:
- BUMI dengan entry 214, target price 242, dan stop loss di bawah 200.
- MINA dengan entry 384, target price 384, dan stop loss di bawah 342.
- RMKE dengan entry 3.300, target price 3.650, dan stop loss di bawah 3.110.
- ETF XIIC dengan entry 806, target price 854, dan stop loss di bawah 783.
[beq]






