Jombang (beritajatim.com) – Di sebuah dusun kecil bernama Ngepeh, yang terletak di Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, hidup berdampingan tiga keyakinan berbeda—Islam, Kristen, dan Hindu.
Di tempat ini, suara azan bersahutan damai dengan denting lonceng gereja dan kidung doa umat Hindu. Tak ada kecurigaan, apalagi permusuhan. Yang ada hanyalah wajah-wajah ramah, senyum tetangga, dan gotong royong yang tak pernah memandang perbedaan.
Kerukunan di Ngepeh bukanlah hasil dari proyek instan atau slogan pemerintah. Ia tumbuh dari akar sejarah yang dalam. Dari warisan tokoh kampung, Mbah Lurah Kam, para cucu-cicitnya—yang kini menjadi warga mayoritas dusun—mewarisi nilai-nilai toleransi dan kebersamaan.
Rumah-rumah ibadah di Ngepeh berdiri dalam jarak dekat: Masjid Raya Quba, Gereja GPdI Jemaat Sejahtera, Gereja Bethel Allah Baik, dan Pura Amerta Buana. Hanya dipisah jalan setapak atau aliran sungai kecil, namun hatinya menyatu dalam cinta damai. Pemakaman penganut tiga agama tersebut juga menjadi satu.
Kisah toleransi yang nyaris tak terdengar ini mengemuka dalam dialog bertajuk ‘Membangun dan Mengembangkan Kampung Moderasi Beragama’, Rabu 23 Juli 2025, di Pesantren At-Tahdzib Rejoagung.
Dihadiri para penyuluh agama dari Kementerian Agama Kabupaten Jombang, para tokoh lintas iman, peneliti, hingga aktivis, diskusi ini menghidupkan kembali api harapan: bahwa Indonesia masih punya contoh nyata bagaimana perbedaan tak harus melahirkan perpecahan.
H. Ahmad Hasani, Kepala Desa Rejoagung, berbicara dengan tulus, “Saya hanya melanjutkan apa yang sudah dilakukan para leluhur. Ngepeh adalah warisan damai yang harus kita rawat.” Harapannya agar Ngepeh tak hanya menjadi teladan lokal, tetapi juga nasional—didengar dunia sebagai bukti bahwa harmoni di tengah perbedaan bukanlah utopia.
Mukani, dosen STIT Urwatul Wutsqo, yang meneliti Ngepeh selama 2,5 tahun, mengungkap dua kunci utama yang membuat toleransi di dusun ini begitu kokoh: akar kekerabatan yang kuat, dan kedekatan secara geografis.

“Mereka satu keturunan dan hidup bertetangga. Itulah yang membuat beda keyakinan tidak memisahkan mereka,” jelasnya.
Namun ia juga mengingatkan, masih ada pekerjaan rumah, terutama di ranah media sosial yang belum banyak mengekspos kisah damai ini. Begitu juga soal penguatan ekonomi sebagai bagian dari upaya menyeluruh membangun kampung moderasi.
Dr. Mashur, Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Jombang, menyebut kerukunan sebagai fondasi kemajuan bangsa. “Tak ada keindahan tanpa keberagaman,” tegasnya.
Sementara Dr. H. Muhajir, Kepala Kemenag Jombang, dengan yakin mengatakan, “Kalau bicara moderasi beragama, Jombang sebenarnya sudah selesai. Tapi tantangan ke depan adalah ideologi transnasional yang mudah menyalahkan pihak lain. Maka peran penyuluh agama sangat penting.”
Dalam diskusi itu, Munif Kusnan, Ketua FKUB (Forum Kerukunan Umar Beragama) Jombang, menaruh harapan agar Ngepeh bisa menjadi dusun percontohan nasional. “Ini bukan akhir, tapi awal kerja keras yang lebih besar,” katanya, menyemangati para penyuluh agama.
Kegiatan pun ditutup dengan momen yang mengharukan: doa lintas iman yang dipimpin oleh tiga tokoh dari tiga agama berbeda—Supar (Hindu), Sulaiman (Kristen), dan Soewignyo (Islam). Lalu dilanjutkan dengan penyerahan bantuan gerobak dan modal usaha dari LazisNU PCNU Jombang untuk warga. Sebuah simbol nyata bahwa toleransi bukan hanya wacana, tapi juga menyentuh sisi ekonomi dan keseharian masyarakat.
David Syaifullah Condropurnomo, salah satu peserta diskusi, menyuarakan harapan banyak pihak, “Setelah ditetapkan sebagai kampung moderasi, semoga warga Ngepeh lebih banyak dilibatkan.”
Ngepeh hari ini memang hanya satu titik kecil di peta Nusantara. Tapi dari titik kecil inilah, cahaya besar bisa menyebar. Di saat dunia masih diwarnai konflik atas nama keyakinan, Ngepeh berdiri sebagai oase keteladanan, tempat di mana cinta kasih menang atas prasangka. [suf]






