RINGKASAN BERITA:
- Hampir 150 ribu jemaah haji Indonesia resmi menyalurkan pembayaran dam melalui program tata kelola Adahi Arab Saudi.
- Daging hasil penyembelihan hewan kurban jemaah Indonesia dipastikan melintasi batas negara untuk diprioritaskan bagi warga Palestina.
- Sistem Adahi memberikan garansi mutlak kesesuaian syariat Islam karena diawasi ketat oleh auditor syariah dan tim veteriner.
- Lonjakan partisipasi jemaah mencerminkan tingginya kepercayaan publik terhadap ekosistem digital resmi kelolaan negara.
Makkah (beritajatim.com) – Hampir 150 ribu jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi secara resmi menyalurkan pembayaran dam (hadyu) mereka melalui program tata kelola Adahi yang dikelola langsung oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Selain menjamin pelaksanaan ibadah yang aman, transparan, dan akuntabel sesuai dengan syariat Islam, daging hasil penyembelihan hewan kurban massal tersebut dipastikan diprioritaskan untuk membantu masyarakat Palestina yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan.
Lompatan angka partisipasi jemaah haji reguler dalam memanfaatkan jalur resmi ini menjadi bukti keberhasilan standardisasi bimbingan ibadah yang dicanangkan pemerintah. Pola pembayaran yang terpusat ini sekaligus mengikis ruang gerak sindikat calo kurban ilegal yang kerap merugikan jemaah di sekitar Kota Suci Makkah.
“Alhamdulillah, tahun ini jemaah haji kita bisa menyalurkan dam melalui saluran resmi yang ditetapkan otoritas Kerajaan Arab Saudi. Jumlahnya sangat besar dan ini menjadi pembuktian bahwa layanan haji dapat dikelola dengan baik, aman, nyaman, dan akuntabel,” ujar Koordinator Bidang Bimbingan Ibadah dan Dam PPIH Arab Saudi, M. Afief Mundzir, saat meninjau fasilitas pemotongan hewan Adahi di Makkah pasca-rangkaian puncak ibadah haji, Senin, 1 Juni 2026.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Senin (1/6/2026), proses penyembelihan yang bergulir sejak Hari Tarwiyah terpantau berjalan sangat lancar. Tingginya angka keterlibatan jemaah mencerminkan adanya lonjakan kepercayaan yang sangat signifikan terhadap mekanisme eksekusi dam lini resmi negara.
Afief, yang juga menjabat sebagai Direktur Bina Jemaah Haji Reguler Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, menegaskan bahwa penggunaan jalur Adahi memberikan garansi mutu mutlak bagi jemaah dan keluarga di tanah air. Seluruh tahapan operasional, mulai dari pengadaan hewan yang sehat, proses penyembelihan yang syar’i, hingga pengemasan higienis, diawasi secara kaku oleh auditor syariah dan tim medis veteriner profesional.
Tata kelola berbasis data harian ini memastikan distribusi daging kurban tidak lagi terbuang sia-sia atau menumpuk tanpa arah, melainkan tersalurkan secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Penguatan ekosistem digital Kemenhaj di bawah arahan langsung Presiden Prabowo Subianto ditargetkan terus meningkatkan standar transparansi operasional pada musim-musim mendatang.
Solidaritas Kemanusiaan Global Dunia Islam untuk Palestina
Nilai sosiologis dari pelaksanaan ibadah dam jemaah Indonesia tahun ini terasa semakin kuat menyusul adanya kebijakan strategis mengenai hilirisasi logistik pangan kurban. Daging dam dari puluhan ribu hewan milik jemaah Indonesia dipastikan bergerak melintasi batas negara untuk menyasar warga Palestina sebagai bentuk bantuan protein segar.
Langkah konkret ini merupakan tindak lanjut dari instruksi dan diplomasi kemanusiaan yang digariskan oleh Menteri Haji dan Umrah serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia. Pihak otoritas pengelola Adahi di Makkah pun telah memberikan komitmen tertulis kepada delegasi Indonesia terkait prioritas pengiriman bantuan logistik kemanusiaan tersebut.
“Sebagaimana tahun lalu, Adahi telah menyalurkan bantuan ke Palestina. Tahun ini, arahan dari Pak Menteri dan Pak Wamen sangat jelas, agar daging dam dari jemaah Indonesia dapat diprioritaskan untuk saudara-saudara kita di Palestina,” kata Afief menjelaskan secara rinci.
Komitmen solidaritas global ini menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai pengirim jemaah haji terbesar di dunia, melainkan juga sebagai kontributor utama dalam jaring pengaman sosial dunia Islam. Ibadah personal yang ditunaikan di Tanah Suci kini bertransformasi menjadi kemaslahatan kolektif yang meringankan beban sesama Muslim di belahan bumi lain.
“Ini menjadi nilai tambah bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi jemaah haji Indonesia, karena ibadah yang mereka tunaikan juga membawa manfaat bagi saudara-saudara yang membutuhkan,” tutur Afief menutup penjelasannya di hadapan media. [ian/MCH]






