RINGKASAN BERITA:
- Jarak pulang-pergi dari tenda terjauh di Maktab 12 menuju Jamarat mencapai 7 kilometer per hari.
- Total jarak tempuh jemaah haji berkisar antara 21 kilometer untuk nafar awal dan 28 kilometer untuk nafar tsani.
- Petugas operasional berseragam cokelat disiagakan di lima pos jalur Jamarat untuk mendampingi jemaah.
Makkah (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengimbau seluruh jemaah calon haji Indonesia untuk menyiapkan stamina fisik yang prima dan memastikan istirahat yang cukup.
Persiapan ini krusial guna menghadapi rute pejalan kaki yang cukup panjang di jalur Mina menuju tempat pelontaran jumrah di Jamarat pada puncak haji 1447 H / 2026 M.
Fase di Mina menjadi salah satu titik yang membutuhkan pergerakan fisik paling signifikan dibandingkan dengan wukuf di Arafah maupun mabit di Muzdalifah. Pada dua fase sebelumnya, jemaah calon haji memang lebih banyak berdiam diri untuk fokus berdoa dan berzikir.
“Dari tenda terjauh kita di markas 12 ke Jamarat itu kemungkinan 3,5 kilometer. Jadi kalau pulang balik perhitungannya 7 kilometer per hari,” kata Dahnil saat meninjau langsung fasilitas tenda di Mina dan jalur pergerakan menuju Jamarat, Arab Saudi, Sabtu (23/5/2026).
Wamenhaj merinci, akumulasi jarak tersebut akan terus bertambah tergantung pada pilihan jemaah dalam menyelesaikan fase mabit di Mina. Bagi jemaah calon haji yang mengambil pilihan nafar awal (tinggal di Mina hingga 12 Zulhijah), estimasi total jarak tempuh berjalan kaki akan mencapai 21 kilometer.
Sementara itu, bagi jemaah yang mengambil pilihan nafar tsani (tinggal di Mina hingga 13 Zulhijah), total jarak tempuh yang harus dilalui menjadi sekitar 28 kilometer.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, situasi di sekitar maktab jemaah Indonesia saat ini terpantau padat merayap seiring pergerakan jemaah yang mulai bergeser ke wilayah Makkah dan bersiap menuju Armuzna. Kondisi cuaca yang menantang menuntut kedisiplinan tinggi dari setiap jemaah dalam mengelola energi.
Untuk mengantisipasi kelelahan dan kendala di lapangan, Dahnil memastikan seluruh petugas operasional dan perlindungan siap bersiaga penuh. Petugas PPIH akan mendampingi serta membantu jemaah calon haji Indonesia selama menjalani ibadah di Mina, khususnya saat melontar jumrah di Jamarat.
Nantinya, para petugas tersebut akan disebar dan bersiaga di lima titik pos taktis di sepanjang jalur Jamarat. Jemaah yang mengalami disorientasi arah atau membutuhkan bantuan medis darurat dapat mengenali mereka dengan mudah melalui seragam dan topi khusus berwarna cokelat.
“Informasi penting untuk jamaah calon haji kita yang melalui jalur ini, mohon untuk tidak panik dan tetap bergerak secara rombongan. Jika membutuhkan bantuan, petugas berseragam cokelat akan tersebar, sehingga mudah dihubungi saat jamaah calon haji butuh pertolongan,” ujar Dahnil.
Sebagai persiapan akhir sebelum pendorongan massal dimulai, Wamenhaj berpesan agar jemaah calon haji memanfaatkan sisa waktu yang ada sebelum puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Jemaah diminta fokus beristirahat di hotel, memperbanyak doa, serta menjaga pola kesehatan agar kuat menjalani seluruh rangkaian ibadah wajib dan rukun haji di Tanah Suci. [ian/MCH]






