Surabaya (beritajatim.com) – Balai RW Kampung Ketandan di kawasan Jalan Tunjungan Surabaya kini menjadi contoh nyata penerapan sistem pendinginan pasif yang efisien, berkat kolaborasi internasional antara Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dan Kyoto University, Jepang.
Proyek ini merupakan langkah strategis Untag Surabaya dalam program internasionalisasi menuju kampus berkelas dunia.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menjelaskan bahwa proyek inovatif ini berawal dari pertemuannya di tahun 2023 dengan perwakilan Center for Southeast Asian Studies Kyoto University.
Konsep utamanya adalah pendinginan alami melalui modifikasi desain bangunan untuk menekan konsumsi energi listrik.
“Inisiatif ini kemudian ditindaklanjuti secara kolaboratif bersama warga Kampung Ketandan, Untag Surabaya, OHS Habitat Studies, dan didukung penuh oleh Konsulat Jepang. Desain ulang Balai RW menghasilkan efisiensi energi yang luar biasa,” ujar Emil, Rabu (10/12/2025).
Desain bangunan Balai RW mengalami perubahan, seperti peninggian atap, pemasangan exhaust untuk mengeluarkan udara panas dengan cepat, dan penambahan ventilasi bawah.
Penerapan desain arsitektur berkelanjutan ini berhasil menekan kebutuhan pendinginan mekanis (AC) secara drastis, yang menunjukkan keberhasilan transfer teknologi dan riset.
Tak sekadar desain fisik, Balai RW ini juga dilengkapi sistem pengelolaan modern menggunakan aplikasi MyEco berbasis QRIS untuk sistem sewa ruang dan pengaturan operasional balai.
Dengan biaya sewa yang terjangkau, yakni Rp20 ribu untuk empat jam, skema ini mendorong pembiayaan operasional balai secara mandiri dan gotong royong.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Retno Hastijanti menegaskan bahwa proyek ini adalah bentuk konkret dari hilirisasi riset yang menjadi bagian integral dari strategi internasionalisasi kampus.
“Penelitian harus memberikan dampak nyata, tidak hanya berhenti di jurnal akademik. Ini adalah wujud hilirisasi yang sejalan dengan visi Untag untuk go Asia dalam lima tahun ke depan. Kyoto University adalah salah satu mitra strategis kami,” jelasnya.
Pendampingan Untag Surabaya di Kampung Ketandan sendiri telah dimulai sejak tahun 2016, di mana berfokus pada pembangunan balai warga yang berfungsi memperkuat ikatan sosial masyarakat yang heterogen.
Pendekatan co-design, perancangan bersama warga, digunakan untuk menumbuhkan rasa kepemilikan yang kuat.
Retno menerangkan, pengembangan proyek Ketandan mengadopsi skema pentahelix, dengan melibatkan banyak pihak seperti Masyarakat Kampung Ketandan, Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim, serta Akademisi dari Untag Surabaya, Kyoto University, dan ITS, hingga Dunia Industri dan Media.
Menurut Retno, kolaborasi lintas negara dan lintas sektor ini memperkuat peran Untag Surabaya sebagai kampus yang tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga aktif membawa riset internasional langsung kepada masyarakat untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan warga kota. [ipl/suf]






