Surabaya (beritajatim.com) – Gelar dokter kerap dipandang eksklusif bagi keluarga berlatar belakang medis. Namun, Benta Malika El Ghameela mematahkan anggapan itu. Ia resmi menjadi dokter meski berasal dari keluarga pedagang asal Madura.
Mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini menjalani proses berat. Sebelum ujian, ia selalu mengabari sang ibu untuk meminta bantuan doa khusus dari jauh.
“Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai,’ baru Mama berhenti membaca Yasin,” ungkap Benta, mengenang, Jumat (22/5/2026).
Perjalanan pendidikannya penuh rintangan, terutama soal finansial. Orang tuanya menggantungkan hidup sehari-hari dari membuka usaha jasa fotokopi dan percetakan berskala kecil.
“Orang tua saya tidak pernah bilang kalau mereka kesulitan. Mereka cuma bilang, ‘Kamu belajar saja. Soal biaya, Mama dan Abah usahakan,'” tuturnya.
Usaha fotokopi itu nyaris tutup saat pandemi melanda. Kedua orang tuanya langsung memutar otak menjual pakaian agar uang kuliah tetap terbayar lunas.
“Di situ saya benar-benar melihat bagaimana orang tua saya berjuang agar saya tetap bertahan di kedokteran,” katanya.
Kondisi ekonomi ini juga sempat memicu rasa kurang percaya diri. Benta berangkat ke kampus menunggangi sepeda motor biasa di tengah rekan sejawat yang membawa kendaraan roda empat.
“Banyak yang bilang anak kedokteran harus bawa mobil. Saya sempat minder. Tapi saya berpikir, saya harus punya nilai dari diri saya sendiri,” ujarnya.
Namun, ingatan akan kakeknya yang sakit terus menjaga semangat belajarnya. Setelah pelantikan, Benta bersiap mengejar pendidikan spesialis bedah untuk membantu pasien di daerah asalnya.
“Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya, saya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan,” kata Benta.
Jejak akademis anak pedagang ini sejalan dengan tren di kampusnya. Sebanyak 16 dokter dilantik pada Kamis, 21 Mei 2026. Ini sekaligus mematahkan mitos profesi medis hanya untuk kelompok tertentu.
“Lulusan FK Unusa ini 84 persen dari keluarga non-dokter,” sebut Dekan FK Unusa, Prof Budi Santoso.
Latar belakang keluarga medis kini bukan lagi penentu seseorang bisa mengenakan jas putih. “Ini menunjukkan siapa pun bisa asal memiliki kemampuan akademik yang cukup, cita-cita, dan passion,” tandas Budi. [ipl/but]






